Tampilkan postingan dengan label Mutiara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 November 2012

Art Berg adalah atlet berbakat yang memiliki masa depan cerah. Ia punya perusahaan konstruksi dan seorang tunangan yang baik dan cantik. Pada malam Natal, dalam perjalanan menuju rumah tunangannya di Utah untuk menuntaskan acara pernikahan mereka, karena perjalanan panjang, ia lelah dan mengantuk hingga mobilnya menabrak tiang pembatas jalan dan terjun ke jurang. Ia terlempar dari mobil dan jatuh 
ke tanah dengan leher patah. Akibatnya ia lumpuh dari dada ke bawah dan tidak bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Dokter berkata ia tidak akan pulih dari kelumpuhan. Teman-temannya menasihatinya agar ia melupakan pernikahannya.

Art Berg takut dan putus asa. Namun ibunya datang dan berbisik, "Nak, hal sulit membutuhkan waktu. Hal mustahil perlu waktu sedikit lebih lama." Karena kata-kata itu, harapannya muncul kembali. Ia berlatih keras hingga akhirnya bisa mandiri. Singkat cerita, 11 tahun kemudian ia kembali memimpin perusahaannya sendiri, bisa menyetir dan berolahraga, serta menikah dengan tunangannya dan punya 2 anak. Belakangan ia menjadi pembicara profesional dan penulis buku yang mendorong dan memotivasi banyak orang.

Kadang-kadang sesuatu tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Jika kita saat ini mengalami hal itu, jangan putus asa! Hal sulit membutuhkan waktu. Hal mustahil perlu waktu sedikit lebih lama. Orang yang bertahan sampai akhir, serta memiliki semangat berjuang yang tinggi, maka dia akan jadi pemenang. Keberhasilan dicapai bukan berasal dari hasil akhir namun dari proses yang menyertainya.

Semangat pagi! Selamat beraktivitas. Semoga Tuhan menuntun kita dalam setiap proses untuk mencapai keberhasilan.
Alkisah, ada seorang tukang batu yang melihat seorang pejabat yang naik mobil mewah. Lalu, ia berandai-andai.. jika bisa menjadi seperti pejabat itu, wah.., betapa bahagianya dia! Eh, harapannya didengar. Jadilah dia pejabat tinggi yang disegani, dihormati, dan pergi ke mana-mana naik mobil mewah. 

Suatu hari, saat turun dari mobilnya, matahari bersinar amat terik sehingga dia kepanasan. Batinnya, "Matahari lebih hebat dari saya nih. Saya bisa kepanasan begini. Mendingan saya jadi matahari saja deh.." Harapannya didengar lagi. Jadilah dia matahari. Wah, dia sangat senang bisa menyinari bumi dengan panasnya. Pokoknya, tidak ada yang tahan dan tidak ada yang bisa melawan. 

Nah, saat dia sedang asyik menyinari bumi, lewatlah awan yang menutupi sinarnya. Dia mengomel, "Kurang ajar nih awan, dia lebih hebat karena bisa menutupi cahayaku. Saya mau jadi awan saja deh!" Maka jadilah dia awan. Tapi tidak lama kemudian, dia ditiup pergi oleh angin.

"Waduh.., saya kalah sama angin. Angin ini kuat sekali! Lebih baik saya jadi angin, bisa menghembus semua hal di dunia ini hingga tiada sisa!" Maka, dia menjadi angin puyuh. Tapi saat sedang beraksi, ternyata ada satu benda yang tidak bisa dihembusnya. Bahkan, bergerak pun tidak. Itu adalah batu besar.

"Wah batu ini lebih kuat dari saya. Tidak bergerak sedikit pun saat saya hembus. Saya mau jadi batu besar saja!" Akhirnya dia pun menjadi batu. Tapi tidak lama kemudian, ada yang menghantamnya. Rupanya, ada tukang batu yang sedang berusaha menghancurkannya. Maka akhirnya orang yang menjadi batu itu hancur dalam ketidakpuasannya..

Pesan moral dari cerita di atas:

Bersyukurlah dalam segala hal. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Yang Maha Kuasa sudah memberikan yang terbaik bagi kita. Berkah, berkat, dan rezeki-Nya untuk kita yang percaya dan mau berjuang keras. Semangat pagi, selamat beraktivitas.





 Salam sukses luar biasa!

Sabtu, 10 November 2012


Alkisah, ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan & ketenangan di dalam hidupnya. Orang tersebut mempunyai dua kantong. Pada kantong yang satu terdapat lubang di bawahnya, tapi pada kantong yang lainnya tidak terdapat lubang.

Segala sesuatu yang menyakitkan yang pernah didengarnya seperti makian & sindiran, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dim
asukkannya ke dalam kantong yang berlubang. Tetapi semua yang indah, benar, dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang tidak ada lubangnya.

Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam saku yang tidak berlubang, membacanya, dan menikmati hal-hal indah yang sudah diperolehnya sepanjang hari itu. Kemudian ia merogoh kantong yang ada lubangnya, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Maka ia pun tertawa dan tetap bersukacita karena tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwanya.

**

Teman2.. Itulah yang seharusnya kita lakukan. Menyimpan semua yang baik di "kantong yang tidak berlubang", sehingga tidak satupun yang baik yang hilang dari hidup kita. Sebaliknya, simpanlah semua yang buruk di "kantong yang berlubang". Maka yang buruk itu akan jatuh dan tidak perlu kita ingat lagi.

Namun sayang sekali.. masih banyak orang yang melakukan dengan terbalik! Mereka menyimpan semua yang baik di "kantong yang berlubang", dan apa yang tidak baik di "kantong yang tidak berlubang" (alias memelihara pikiran-pikiran jahat dan segala sesuatu yang menyakitkan hati). Maka, jiwanya menjadi tertekan & tidak ada gairah dalam menjalani hidup.

Oleh karena itu, agar bisa menikmati kehidupan yang bahagia dan tenang: jangan menyimpan apa yang tidak baik di dalam hidup kita (tahukah Anda: sakit hati, iri hati, dendam, dan kemarahan juga bisa menyebabkan penyakit serius bahkan kematian). Mari mencoba, menyimpan hanya yang baik dan bermanfaat. Luar biasa!
Sering kali saat kita bangun pagi, begitu membuka mata, pikiran kita sudah terbebani oleh berbagai masalah. Contoh: janji yang belum ditepati, perasaan kecewa, masalah percintaan, keuangan, dan berbagai macam problem lainnya.

Jika begitu bangun pagi pikiran kita sudah terkondisikan oleh beban seperti itu, maka hari yang akan kita jalani terasa begitu berat, jauh dari perasaan bahagia.

Alangkah bijak, jika kita menyongsong hari yang baru dengan bersyukur & berdoa (coba singkirkan sementara semua masalah). Sadari bahwa apa pun yang diperoleh sepanjang perjalanan hidup ini semuanya adalah titipan Yang Di Atas. Maka kita akan mendapatkan kesegaran & kesehatan mental, serta pikiran positif untuk menghadapi kehidupan hari ini dengan berani dan menyenangkan!

Ingat: Sikap berserah pada-Nya & hati yang penuh syukur merupakan "kekayaan jiwa", serta menumbuhkan keyakinan bahwa setiap hari adalah hari baru hari yang indah dan penuh harapan.

Kamis, 18 Oktober 2012

Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat, “Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?”
Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, “Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang Nenek pakai. Nenek harap kamu bisa meniru pensil ini ketika kamu besar nanti,” ujar si nenek lagi.
Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai. “Tapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya,” ujar si cucu.
Si nenek kemudian menjawab, “Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini.”  Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.
“Pertama, pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya Tuhan. Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya.”

“Kedua, dalam proses menulis, Nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita.”
“Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik.”

“Ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar.”

“Keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah berhati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu.”

“Kelima, sebuah pensil selalu meninggalkan tanda / goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar, apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini, pasti akan tinggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah berhati-hati dan sadar terhadap semua tindakan.”

Jumat, 21 September 2012

Kalau Anda membayangkan sikap seorang hamba, apakah Anda membayangkannya sebagai kegiatan yang hanya dilakukan oleh seseorang yang memiliki keterampilan di tingkatan terbawah? Kalau jawaban Anda YA, Anda keliru. Sikap seorang hamba bukanlah soal posisi atau keterampilan. Itu adalah soal sikap. Anda tentunya pernah bertemu dengan orang-orang yang menempati posisi-posisi pelayanan yang memiliki sikap yang buruk; pekerja yang kasar di aparat pemerintahan, pramusaji yang tidak mau repot mencatat pesanan Anda, atau seorang penjaga toko yang lebih suka sibuk berbicara di telepon daripada melayani pembeli.
Sama seperti yangbisa Anda rasakan ketika Anda melihat seorang pekerja tidak mau membantu. Anda bisa dengan mudah mendeteksi apakah seseorang mempunyai hati seorang hamba atau tidak. Dan sesungguhnya pemimpin terbaik itu berhasrat melayani sesamanya, bukan dirinya sendiri. Apakah artinya bersikap seperti layaknya hamba? Artinya adalah seorang pemimpin yang memiliki hati seorang hamba.
1. Mendahulukan sesamanya daripada agendanya sendiri
Tanda pertama dari sikap seorang hamba adalah kemampuan mendahulukan sesama daripada dirinya dan hasrat-hasrat pribadinya sendiri. Ini lebih dari sekadar menunda agenda pribadi. Itu berarti orang tersebut memang benar-benar menyadari kebutuhan sesama, menyediakan diri untuk menolong, dan sanggup menerima hasrat-hasrat sesamanya sebagai sesuatu hal yang penting.
2. Tenteram di dalam
Inti sikap seorang hamba adalah ketenteraman. Tunjukkanlah seseorang yang menganggap dirinya terlalu penting untuk melayani, maka akan kita lihat seseorang yang hidupnya tidak tenteram. Bagaimana kita memperlakukan sesama, sesungguhnya mencerminkan bagaimana pandangan kita tentang diri sendiri. 
Hanya pemimpin yang tenteramlahyang memberikan kekuasaan kepada sesamanya. Demikian pula halnya; hanya seorang yang benar-benar tenteramlah yang bisa memperlihatkan sikap seorang hamba.
3. Menginisiatifkan pelayanan kepada sesama
Boleh dibilang siapa pun akan melayani kalau terpaksa. Bahkan ada yang melayani dalam krisis. Tetapi kita bisa benar-benar melihat hati seseorang yang menginisiatifkan pelayanan kepada sesamanya. Para pemimpin besar melihat kebutuhannya, memanfaatkan peluangnya, dan melayani tanpa mengharapkan pamrih apa pun
4. Tidak terlalu mementingkan posisi
Para pemimpin yang bersikap sebagai seorang hamba tidak fokus pada pangkat atau posisi. Ketika Kolonel Norman Swchwarzkopf melangkah ke sebuah ladang ranjau, pangkat adalah hal terakhir yang dipikirkannya. Ia hanyalah seorang individu yang berusaha menolong sesamanya. Justru menjadi pemimpin malah memberinya perasaan wajib lebih besar dalam melayani.
5. Melayani karena kasih
Sikap seorang hamba tidak dimotivasikan oleh manipulasi atau promosi diri, melainkan didorong oleh kasih. Ujung-ujungnya pengaruh dan kualitas hubungannya tergantung pada kepedulian terhadap sesama.Itulah sebabnya penting sekali para pemimpin itu bersedia melayani.

Suatu hari, dua orang sahabat menghampiri sebuah lapak untuk membeli beberapa koran serta majalah. Penjualnya ternyata melayani dengan buruk. Mukanya pun cemberut. Orang pertama jelas jengkel menerima layanan yang buruk seperti itu. Yang mengherankan, orang kedua tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kepada penjual itu.
Orang pertama itu bertanya kepada sahabatnya, "Hei. Kenapa kamu bersikap sopan kepada penjual menyebalkan itu?"
Sahabatnya menjawab, "Lho, kenapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak? Kitalah sang penentu atas kehidupan kita, bukan orang lain."
"Tapi dia melayani kita dengan buruk sekali," bantah orang pertama. Ia masih merasa kesal.
"Ya, itu masalah dia. Dia mau bad mood, tidak sopan, melayani dengan buruk, dan lainnya, toh itu enggak ada kaitannya dengan kita. Kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur dan mempengaruhi hidup kita. Padahal kitalah yang bertanggung jawab atas diri sendiri."
Yes! Itu point-nya!
Seandainya ada orang yang melakukan hal yang buruk kepada kita, jangan pernah biarkan orang tersebut menentukan cara kita bertindak. Sayangnya, seringkali kita tidak berbuat demikian. Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang lain kepada kita. Kalau mereka melakukan hal yang buruk, kita akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi. Kalau mereka tidak sopan, kita akan lebih tidak sopan lagi. Kalau orang lain pelit terhadap kita, kita yang semula pemurah tiba-tiba jadinya sedemikian pelit kalau harus berurusan dengan orang itu.
Mari renungkan. Mengapa tindakan kita harus dipengaruhi oleh orang lain? Mengapa untuk berbuat baik saja, kita harus menunggu diperlakukan dgn baik oleh orang lain dulu? Jaga suasana hati. Jangan biarkan sikap buruk orang lain kepada kita menentukan cara kita bertindak! Pilih untuk tetap berbuat baik, sekalipun menerima hal yang tidak baik!! Be an "actor", not a "reactor"
 
Copyright © 2014 Budayakan Kebersamaan All Right Reserved
Designed by OddThemes